STRATEGI
DAN PENDEKATAN DAKWAH KULTURAL
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Dakwah
Program
Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI)
Dosen
Pengampu : Ahmad Gojin, M.Ag.
Disusun
Oleh Kelompok 2 :
1.
Musawahi
Ega Nugraha
2.
Agus
Abdul Azis
3.
Ilham
Nurhayat
SEKOLAH
TINGGI ILMU DAKWAH (STID) SIRNARASA
Komplek
Yayasan Pesantren Sirnarasa, Dsn. Ciceuri RT 10 / RW 05, Ds. Ciomas, Kec.
Panjalu, Kab. Ciamis, Jawa Barat Indonesia
2016
KATA PENGANTAR
Dengan Mengucapkan puji dan syukur kehadirat Alloh
S.W.T serta berkat rahmat dan karuniaNya, penulis akhirnya dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul: “Strategi
dan Pendekatan Dakwah Kultural”.
Makalah ini diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikologi Dakwah pada program studi komunikasi penyiaran Islam,
di STID Sirnarasa.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, karena
keterbatasan kemampuan yang ada pada
penulis. Oleh karena itu kritik dan saran sangat kami tunggu dari pembaca
sekalian, guna perbaikan dimasa yang akan datang.
Dalam
proses penyusunan makalah ini penulis banyak bantuan dari berbagai pihak, baik
material maupun spiritual, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala
bantuan yang diberikan sehingga terselesaikannya makalah ini.
Sirnarasa, 13 Maret 2016
Tim Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
................................................................................................
2
Daftar Isi
.........................................................................................................
3
BAB I PENDAHULUAN :
A.
Latar
Belakang ....................................................................................
4
B.
Rumusan
Masalah ...............................................................................
4
C.
Tujuan
Penulisan .................................................................................
4
BAB II PEMBAHASAN :
A.
Definisi
Strategi ...................................................................................
5
B.
Definisi
Pendekatan .............................................................................
5
C.
Definisi
Dakwah Kultural ....................................................................
5
D.
Prinsip Pendekatan Dakwah Kultural
.................................................. 5
E.
Strategi dan Pendekatan Dakwah Melalui Seni Budaya
...................... 6
F.
Strategi dan Pendekatan Dakwah Kultural Wali Songo
...................... 7
BAB III PENUTUP :
A.
Kesimpulan
.........................................................................................
10
B.
Saran
...................................................................................................
10
DAFTAR PUSTAKA
.....................................................................................
11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dakwah adalah proses memasukan pemahaman tentang Islam kepada objek
dakwah / mad’u dengan cara yang baik sehingga dapat diterima oleh mad’u. Indonesia
adalah negara yang masyarakatnya memiliki adat-istiadat dan budaya yang
berbeda-beda. Oleh karena kemajemukan budaya bangsa Indonesia tersebut, maka
dakwah yang cocok diterapkan pada masyarakat Indonesia adalah dakwah Kultural.
Dengan menerapkan dakwah kultural, maka seorang Da’i akan
mengetahui bagai mana cara memasukan pemahaman agama Islam ke dalam budaya
masyarakat yang berbeda-beda jenis karakter, adat-istiadat, status sosial dll.
Kepiawaian seorang Da’i dalam mencari celah budaya yang bisa dimasuki
unsur-unsur ajaran Islam sangat menetukan berkembangnya dakwah kultural.
Kegiatan dakwah Kultural sangat memperhatikan
potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas dalam
rangka menghasilkan kultur baru yang bernuansa Islami atau kegiatan dakwah yang
memanfaatkan adat, tradisi, seni dan budaya lokal dalam proses menuju kehidupan
Islami.
Berangkat dari keefektifan dakwah kultural
tersebut, maka kami menyusun makalah ini dengan harapan menambah khasanah serta
referensi bagi siapa saja yang ingin mempelajari tentang Strategi dan
pendekatan dakwah Kultural.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
Definisi Strategi ?
2.
Apa
Definisi Pendekatan ?
3.
Apa
Definisi Dakwah Kultural ?
4.
Apa Saja Prinsip Pendekatan Dakwah Kultural ?
5.
Bagaimana Strategi dan Pendekatan Dakwah Melalui Seni Budaya
?
6.
Seperti Apa Strategi dan Pendekatan Dakwah Kultural Wali
Songo ?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Psikologi Dakwah
2.
Mengetahui
Definisi Strategi dan Pendekatan Dakwah Kultural
3.
Mengetahui
Prinsip Pendekatan Dakwah Kultural
4.
Memahami Strategi dan Pendekatan Dakwah Melalui Seni Budaya
5.
Mempelajari Strategi dan Pendekatan Dakwah Kultural Wali
Songo.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Strategi
- Rangkuti mengatakan
bahwa strategi adalah alat untuk mencapai tujuan.
- Craig dan Grant, menuturkan
strategi yaitu penetapan tujuan dan sasaran dalam jangka panjang (Targeting
and long-term goals).
·
Menurut Syafrizal, strategi
ialah cara untuk mencapai sebuah tujuan berdasarkan analisa terhadap faktor eksternal
dan internal.
B. Definisi Pendekatan
Pendekatan adalah proses,perbuatan,atau cara
mendekati (KBBI,1995). Dikatakan pula bahwa pendekatan merupakan sikap atau
pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi atau seperangkat asumsi
yang paling berkaitan.
C.
Definisi Dakwah Kultural
Dakwah kultural adalah : Dakwah yang dilakukan
dengan cara mengikuti budaya-budaya kultur masyarakat setempat dengan tujuan
agar dakwahnya dapat diterima di lingkungan masyarakat setempat.
Dakwah
kultural juga berarti : Kegiatan dakwah dengan memperhatikan potensi dan
kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas dalam rangka
menghasilkan kultur baru yang bernuansa Islami atau kegiatan dakwah yang
memanfaatkan adat, tradisi, seni dan budaya lokal dalam proses menuju kehidupan
Islami.
D.
Prinsip Pendekatan Dakwah Kultural
Dakwah kultural di satu sisi mempunyai prinsip
dengan lebih menekankan pendekatan Islam kultural, yakni salah satu pendekatan
yang berusaha meninjau kembali kaitan doktrinal formal antara Islam dan politik
atau Islam dan negara.
Tegasnya
gerakan dakwah kultural itu cenderung mempertanyakankebenaran statemen yang
mengatakan bahwa gerakan dakwah dipandang belum sungguh-sungguh memperjuangkan
Islam Hubungan antara Islam dan politik atau Islam dan negara termasuk wilayah
pemikiran ijtihadiyah, yang tidak menjadi persoalan bagi umat Islam ketika
sistem kekhalifahan masih bertahan di dunia Islam.
Dakwah kultural mempertanyakan validitas; apakah
benar bahwa dakwah umat Islam yang berada di luar kekuasaan adalah dakwah yang
tidak lengkap dan sempuma. Hakekat dakwah pada dasamya adalah upaya mengajak
dan mengembalikan manusia pada eksistensi secara integral, serta merupakan
upaya penjabaran nilai-nilai Ilahi menjadi amal saleh dalam kehidupan nyata.
Antara pemikiran tentang dakwah yang berkembang
sekarang dengan realitas, ada suatu kesenjangan yang perlu dijembatani.
Pertama, kesenjangan yang berasal dari cara memberikan pengertian dakwah yang
mempengaruhi tradisi dakwah selama ini. Kedua, kesenjangan yang disebabkan
tidak adanya kerangka keilmuan tentang dakwah yang mampu memberikan penjelasan
tentang dakwah Islam, yang merupakan kesenjangan antara teori dan praktek.
Dakwah kultural di satu sisi mempunyai prinsip dengan lebih menekankan
pendekatan Islam kultural, yakni salah satu pendekatan yang berusaha meninjau
kembali kaitan doktrinal formal antara Islam dan politik atau Islam dan negara.
E.
Strategi dan Pendekatan Dakwah Melalui Seni Budaya
Ditinjau dari sisi sosiokultural, sudah menjadi fakta bahwa salah satu pilar kesuksesan dakwah nabi Muhammad SAW dikalangan masyarakat Arab adalah strategi beliau dalam mendekati kaum Arab lewat pendekatan seni dan budaya. Adanya kitab suci Al-Qur’an yang bernilai sastra tinggi di lingkungan yang sangat menghargai sastra budaya pada saat itu merupakan bukti bahwa melalui budaya masyarakat mudah menerima ajaran-ajaran Islam. Begitu juga dalam menetapkan hukum atas sesuatu, beliau tidak menghilangkan budaya yang ada, melainkan hanya meluruskan hingga sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
Ditinjau dari sisi sosiokultural, sudah menjadi fakta bahwa salah satu pilar kesuksesan dakwah nabi Muhammad SAW dikalangan masyarakat Arab adalah strategi beliau dalam mendekati kaum Arab lewat pendekatan seni dan budaya. Adanya kitab suci Al-Qur’an yang bernilai sastra tinggi di lingkungan yang sangat menghargai sastra budaya pada saat itu merupakan bukti bahwa melalui budaya masyarakat mudah menerima ajaran-ajaran Islam. Begitu juga dalam menetapkan hukum atas sesuatu, beliau tidak menghilangkan budaya yang ada, melainkan hanya meluruskan hingga sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
Seni merupakan media yang mempunyai peran yang
amat penting dalam pelaksanaan dakwah Islam, karena media tersebut memiliki
daya tarik yang dapat mengesankan hati bagi pendengar maupun penontonnya.
Terbukti, karena keindahan seni dalam bahasa Al-Qur’an yang terlantunkan oleh
adiknya Umar bin Khatab bergetar hatinya untuk masuk Islam.
Demikian juga dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa dapat tersebar luas serta diterima oleh masayarakat karena para Walisongo sebagai da’i menggunakan bentuk-bentuk seni dari budaya masyarakat setempat sebagai salah satu media dakwah pada waktu itu, yaitu media wayang dan gamelan. Menurut Abdurrahman Al Baghdadi, definisi seni yaitu penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihatan (seni lukis) dan dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari / drama).
Seni merupakan bentuk keindahan yang tampak nyata yang langsung dapat dinikmati oleh manusia. Oleh karena itulah, orang beriman menyukai keindahan dalam bentuk yang tampak dan yang ada disekelilingnya,
Demikian juga dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa dapat tersebar luas serta diterima oleh masayarakat karena para Walisongo sebagai da’i menggunakan bentuk-bentuk seni dari budaya masyarakat setempat sebagai salah satu media dakwah pada waktu itu, yaitu media wayang dan gamelan. Menurut Abdurrahman Al Baghdadi, definisi seni yaitu penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihatan (seni lukis) dan dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari / drama).
Seni merupakan bentuk keindahan yang tampak nyata yang langsung dapat dinikmati oleh manusia. Oleh karena itulah, orang beriman menyukai keindahan dalam bentuk yang tampak dan yang ada disekelilingnya,
karena
semua itu adalah jejak yang membekas dari keindahan Allah SWT. Adapun
pendekatan dan pengembangan dakwah yang digunakan oleh Walisongo sesuai dengan
media dakwah setempat yang sedang digandrungi oleh masyarakat, yaitu wayang.
Para Wali melihat kesenian wayang sebagai media komunikasi dan interaksi yang
sangat mampu terhadap pola pikir masyarakat. Kesenian wayang orang kemudian
dimodifikasi dan disesuaikan oleh para Wali dengan konteks dakwah (di
Islamkan).
Sehingga dengan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dapat tersebar luas serta diterima oleh masyarakat karena Walisongo menggunakan bentuk-bentuk kesenian dari budaya masyarakat setempat sebagai salah satu media dakwah yaitu media wayang dan gamelan. Dengan media itu mudah ditangkap oleh masyarakat yang awam karena pendekatan-pendekatan Walisongo yang konkrit dan realistis, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Melihat kenyataan yang sedemikian maka kesenian memiliki peranan yang tepat guna sehingga dapat mengajak kepada khalayak untuk menikmati dan menjalankan isi yang terkandung didalamnya. Dalam konteks keilmuwan dakwah yang digunakan Islam dengan metode kesenian adalah salah satunya dengan menggunakan lagu-lagu shalawt rebana, nasyid, pop, dangdut dan lain-lain. Mengapa dapat dikatakan sebagai media dakwah, karena syair yang terpancar/digunakan bernilai/bermuatan dakwah, sehingga dapat dikatakan bahwa seni bisa sebagai ajang untuk berdakwah. Perlu diperhatikan, sebagai salah satu alternatif dalam penempatan seni sebagai media dakwah adalah, usaha menelusuri jati diri atau kreatifitas seni Islam, dengan memadukan rasa, cipta dan karsa sebagai aspek budaya dengan jiwa Islam.
Sehingga dengan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dapat tersebar luas serta diterima oleh masyarakat karena Walisongo menggunakan bentuk-bentuk kesenian dari budaya masyarakat setempat sebagai salah satu media dakwah yaitu media wayang dan gamelan. Dengan media itu mudah ditangkap oleh masyarakat yang awam karena pendekatan-pendekatan Walisongo yang konkrit dan realistis, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Melihat kenyataan yang sedemikian maka kesenian memiliki peranan yang tepat guna sehingga dapat mengajak kepada khalayak untuk menikmati dan menjalankan isi yang terkandung didalamnya. Dalam konteks keilmuwan dakwah yang digunakan Islam dengan metode kesenian adalah salah satunya dengan menggunakan lagu-lagu shalawt rebana, nasyid, pop, dangdut dan lain-lain. Mengapa dapat dikatakan sebagai media dakwah, karena syair yang terpancar/digunakan bernilai/bermuatan dakwah, sehingga dapat dikatakan bahwa seni bisa sebagai ajang untuk berdakwah. Perlu diperhatikan, sebagai salah satu alternatif dalam penempatan seni sebagai media dakwah adalah, usaha menelusuri jati diri atau kreatifitas seni Islam, dengan memadukan rasa, cipta dan karsa sebagai aspek budaya dengan jiwa Islam.
F.
Strategi dan Pendekatan Dakwah Kultural Wali Songo
Wali songo dalam menyiarkan Islam tidak hanya
akrab dengan masyarakat umum tetapi juga akrab dengan penguasa kerajaan, ketika
menyiarkan Islam, mereka menggunakan berbagai bentuk kesenian teradisional
masyarakat setempat, mereka menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam kesenian
tersebut. Ole karena itu upaya mereka tidak terasa asing dan sangat komunikatif
bagi masyarakat setempat. Usaha ini memnuahkan hasil, tidak hanya mengembangkan
agama islam, tetapi juga memperkaya kandungan budaya islam.
Rupanya,
metode dakwah tersebut telah diterapkan oleh Walisongo dalam syiar Islam di
Jawa. Walisongo adalah sejumlah guru besar atau ulama’ yang berjumlah sembilan
yang diberi tugas untuk dakwah islamiyah di wilayah tertentu. Walisongo
mencapai sukses besar dalam syiar Islam di tanah Jawa ini. Selain ahli dalam
bidang keagamaan, Walisongo juga ahli dalam seni dan sastra budaya, khususnya
sastra pesantren. Dalam penyebaran agama Islam Walisongo juga memasuki
ranah-ranah seni dan budaya masyarakat. Mereka gemar dengan kebudayaan dan
sastra daerah. Walisongo menciptakan syair-syair atau puisi dan tembang-tembang
atau lagu dengan memasukkan ajaran Islam di dalamnya dalam berdakwah.
Karya-karya beliau di bidang seni dan satra budaya antara lain:
1. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.
Beliau termasuk salah satu dari Walisongo yang menyiarkan agama Islam di Gresik. Setelah kerajaan Majapahit lenyap dari sejarah, munculah kerajaan Demak yang dipimpin oleh para Sultan yang didukung oleh para Wali, salah satunya ialah Maulana Malik Ibrahim. Beliau juga berpartisipasi dalam penyempurnaan bentuk dan lakon wayang agar tidak bertentangan dengan agama Islam.
2. Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.
Sunan Bonang termasuk Walisongo yang sukses dalam menyiarkan agama Islam. Beliau menggunakan seni dan budaya sebagai perantara dakwah Islamiyah. Diantara sumbangan beliau dalam seni dan sastra budaya adalah dakwah melalui pewayangan, menyempurnakan instrumen gamelan terutama bonang, kenong dan kempul, menciptakan tembang Macapat dan suluk Wujil. Di dalam suluk Wujil berisi tentang ilmu kesempurnaan hidup dan mistik.
3. Syarifudin atau Sunan Drajat.
Sunan Drajat menjadi juru bicara rakyat yang tertindas dan beliau mengecam elite politik yang hanya mengejar kekuasaan demi kepentingan pribadi. Beliau juga berdakwah melalui sastra budaya. Diantara karyanya adalah tembang Pangkur, yang menghendaki keselarasan jasmani rohani, dunia akhirat untuk memperoleh kesejahteraan hidup.
4. Raden Mas Syahid atau Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga merupakan wali yang paling populer di mata orang Jawa. Di antara karya-karya beliau dalam berdakwah adalah tiang Masjid Demak yang terbuat dari tatal, gamelan Naga Wilanga, gamelan Guntur Madu, gamelan Nyai Sekati, gamelan Kyai Sekati, wayang kulit Purwa, baju takwa, kain balik, tembang Dhandhanggula dan syair-syair pesantren. Di dalam tembang Dhandhanggula tergambar makna-makna kehidupan.
5. Jaka Samudra disebut juga dengan Raden Paku Atau Sunan Giri.
Sunan Giri adalah murid dari Sunan Ampel. Selain berdakwah dengan sastra budaya, beliau juga mendirikan Pesantren Giri di Gresik. Karya-karya beliau diantaranya permainan Jetungan, Jemuran, Gula Ganti, Cublek-cublek Suweng, tembang Asmaranda, tembang Pucung dan Ilir-ilir yang sampai sekarang masih sering kita dengarkan. Tembang Ilir-ilir menyuruh kita untuk menggunakan kesempatan hidup di dunia untuk mempersiapkan bekal guna di hari akhir kelak.
6. Jakfar Shadik atau sunan kudus.
Sunan Kudus adalah salah satu Walisongo yang bertugas melakukan syiar Islam di sekitar daerah Kudus, Jawa Tengah. Dalam berdakwah beliau menciptakan karya sastra budaya berupa Tembang Maskumambang dan Tembang Mijil.
7. Raden Umar Said atau Sunan Muria.
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Beliau disebut Sunan Muria karena wilayah syiar Islamnya meliputi lingkungan Gunung Muria. Karya sastra budaya Sunan Muria sebagai dakwah antara lain Tembang Sinom dan Tembang Kinanti.
8. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Beliau merupakan peletak pondasi agama Islam di daerah Jawa Barat. Meskipun beliau tidak menciptakan karya sastra budaya, beliau turut aktif mendukung sastra dan budaya di kerajaan Demak. Karena Sultan Trenggono raja ketiga Demak mengawinkan adik putrinya, Putri Demak dengan Syarif Hidayatullah.
9. Raden Rakhmat atau Sunan Ampel.
Selain berpartisipasi dalam bidang sastra budaya sebagai media dakwah, beliau juga mendirikan sebiah pesantren di Ampeldenta Surabaya. Di pesantren inilah berkembang pesat dakwah meliau melalui sastra pesantren. Diantara sastra pesantren yang masih sering kita lantunkan adalah singiran Tombo Ati. Singiran Tombo Ati berisi tentang butir lima dalam kehidupan masyarakat sebagai obat gelisah.
Melalui tembang-tembang tersebut Walisongo mampu meraih hati dan jiwa masyarakat untuk mamahami serta melakukan ajaran-ajaran Islam. Walisongo tidak pernah memaksa dalam bersyiar Islam. Mereka berbaur kedalam masyarakat dan di tengah keakraban merekalah Walisongo memasukkan ajaran-ajaran Islam melalui sendi-sendi humaniora dan budaya masyarakat. Dalam Al-Qur'an surat An-Nahl [16] ayat 125 dijelaskan: ”Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
1. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.
Beliau termasuk salah satu dari Walisongo yang menyiarkan agama Islam di Gresik. Setelah kerajaan Majapahit lenyap dari sejarah, munculah kerajaan Demak yang dipimpin oleh para Sultan yang didukung oleh para Wali, salah satunya ialah Maulana Malik Ibrahim. Beliau juga berpartisipasi dalam penyempurnaan bentuk dan lakon wayang agar tidak bertentangan dengan agama Islam.
2. Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.
Sunan Bonang termasuk Walisongo yang sukses dalam menyiarkan agama Islam. Beliau menggunakan seni dan budaya sebagai perantara dakwah Islamiyah. Diantara sumbangan beliau dalam seni dan sastra budaya adalah dakwah melalui pewayangan, menyempurnakan instrumen gamelan terutama bonang, kenong dan kempul, menciptakan tembang Macapat dan suluk Wujil. Di dalam suluk Wujil berisi tentang ilmu kesempurnaan hidup dan mistik.
3. Syarifudin atau Sunan Drajat.
Sunan Drajat menjadi juru bicara rakyat yang tertindas dan beliau mengecam elite politik yang hanya mengejar kekuasaan demi kepentingan pribadi. Beliau juga berdakwah melalui sastra budaya. Diantara karyanya adalah tembang Pangkur, yang menghendaki keselarasan jasmani rohani, dunia akhirat untuk memperoleh kesejahteraan hidup.
4. Raden Mas Syahid atau Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga merupakan wali yang paling populer di mata orang Jawa. Di antara karya-karya beliau dalam berdakwah adalah tiang Masjid Demak yang terbuat dari tatal, gamelan Naga Wilanga, gamelan Guntur Madu, gamelan Nyai Sekati, gamelan Kyai Sekati, wayang kulit Purwa, baju takwa, kain balik, tembang Dhandhanggula dan syair-syair pesantren. Di dalam tembang Dhandhanggula tergambar makna-makna kehidupan.
5. Jaka Samudra disebut juga dengan Raden Paku Atau Sunan Giri.
Sunan Giri adalah murid dari Sunan Ampel. Selain berdakwah dengan sastra budaya, beliau juga mendirikan Pesantren Giri di Gresik. Karya-karya beliau diantaranya permainan Jetungan, Jemuran, Gula Ganti, Cublek-cublek Suweng, tembang Asmaranda, tembang Pucung dan Ilir-ilir yang sampai sekarang masih sering kita dengarkan. Tembang Ilir-ilir menyuruh kita untuk menggunakan kesempatan hidup di dunia untuk mempersiapkan bekal guna di hari akhir kelak.
6. Jakfar Shadik atau sunan kudus.
Sunan Kudus adalah salah satu Walisongo yang bertugas melakukan syiar Islam di sekitar daerah Kudus, Jawa Tengah. Dalam berdakwah beliau menciptakan karya sastra budaya berupa Tembang Maskumambang dan Tembang Mijil.
7. Raden Umar Said atau Sunan Muria.
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Beliau disebut Sunan Muria karena wilayah syiar Islamnya meliputi lingkungan Gunung Muria. Karya sastra budaya Sunan Muria sebagai dakwah antara lain Tembang Sinom dan Tembang Kinanti.
8. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Beliau merupakan peletak pondasi agama Islam di daerah Jawa Barat. Meskipun beliau tidak menciptakan karya sastra budaya, beliau turut aktif mendukung sastra dan budaya di kerajaan Demak. Karena Sultan Trenggono raja ketiga Demak mengawinkan adik putrinya, Putri Demak dengan Syarif Hidayatullah.
9. Raden Rakhmat atau Sunan Ampel.
Selain berpartisipasi dalam bidang sastra budaya sebagai media dakwah, beliau juga mendirikan sebiah pesantren di Ampeldenta Surabaya. Di pesantren inilah berkembang pesat dakwah meliau melalui sastra pesantren. Diantara sastra pesantren yang masih sering kita lantunkan adalah singiran Tombo Ati. Singiran Tombo Ati berisi tentang butir lima dalam kehidupan masyarakat sebagai obat gelisah.
Melalui tembang-tembang tersebut Walisongo mampu meraih hati dan jiwa masyarakat untuk mamahami serta melakukan ajaran-ajaran Islam. Walisongo tidak pernah memaksa dalam bersyiar Islam. Mereka berbaur kedalam masyarakat dan di tengah keakraban merekalah Walisongo memasukkan ajaran-ajaran Islam melalui sendi-sendi humaniora dan budaya masyarakat. Dalam Al-Qur'an surat An-Nahl [16] ayat 125 dijelaskan: ”Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
·
Strategi adalah alat
untuk mencapai tujuan.
·
Pendekatan adalah proses,perbuatan,atau cara mendekati
(KBBI,1995). Dikatakan pula bahwa pendekatan merupakan sikap atau pandangan
tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi atau seperangkat asumsi yang
paling berkaitan.
·
Dakwah kultural adalah : Dakwah yang dilakukan dengan cara
mengikuti budaya-budaya kultur masyarakat setempat dengan tujuan agar dakwahnya
dapat diterima di lingkungan masyarakat setempat.
·
Ditinjau dari sisi sosiokultural, sudah menjadi fakta bahwa
salah satu pilar kesuksesan dakwah nabi Muhammad SAW dikalangan masyarakat Arab
adalah strategi beliau dalam mendekati kaum Arab lewat pendekatan seni dan
budaya.
·
Wali songo dalam menyiarkan Islam tidak hanya akrab dengan
masyarakat umum tetapi juga akrab dengan penguasa kerajaan, ketika menyiarkan
Islam, mereka menggunakan berbagai bentuk kesenian teradisional masyarakat
setempat, mereka menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam kesenian tersebut.
B.
Saran
Dari kesimpulan
di atas, kami memberikan saran kepada para aktivis dakwah (Da’i) agar
senantiasa mempelajari dan mempraktikan pola dakwah yang diajarkan oleh
Rosululloh SAW dan penerusnya sampai akhir jaman.
Dengan terselesaikannya makalah ini, maka kamipun sebagai penyusun
membuka kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian guna perbaikan
pada makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
·
www.seputarpengetahuan.com
·
mutiara09bahasa.blogspot.com
·
Obejustin.blogspot.com
·
Fitwiethayalisyi.wordpress.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar